KEAKSARAAN MELALUI BAHASA IBU, Dr. Sudjarwo (ed.)

KEAKSARAAN MELALUI BAHASA IBU, Dr. Sudjarwo (ed.)

Kompleksitas persoalan yang dihadapi dalam rangka memberantas kebutaakasaraan penduduk mendorong Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas, terus mencari berbagai alternatif terobosan. Hal ini tidak lain karena berdasarkan data BPS tahun 2005, angka buta aksara penduduk Indonesia usia 15 tahun keatas masih sebesar 14,595,088 orang atau 9,55%, dan pada tahun 2006 semester pertama sebesar 13,182,492 orang atau 8,36%. Angka tersebut harus diturunkan menjadi 5% pada akhir tahun 2009. Selain target penurunan angka tersebut tinggi, juga karena memang tidak mudah memelekaksarakan penduduk yang sudah berusia diatas 15 tahun. Ini berarti perlu terobosan khusus, baik dari segi pendekatan maupun metodologi pembelajaran keaksaraan. Satu diantara berbagai upaya tersebut adalah pengembangan pendidikan keaksaraan dengan memanfaatkan bahasa ibu.

Pengembangan pendidikan keaksaraan melalui bahasa ibu sangat relevan untuk dibudayakan karena kita memiliki banyak ragam bahasa ibu yang tersebar di seantero Indonesia. Selain itu bahasa ibu juga akan menjadi jembatan untuk mempermudah mempelajari bahasa Indonesia. Data menunjukkan tidak kurang dari 737 bahasa daerah yang dewasa ini masih aktif digunakan dan tersebar dari ujung paling timur Indonesia, di pulau papua, sampai dengan paling ujung barat Indonesia, di pulau Sumatera. Bahasa jawa dan sunda merupakan bahasa ibu yang paling terbesar pertama dan kedua di Indonesia dengan jumlah penutur masing-masing 75 juta dan 27 juta jiwa.

Bahasa ibu atau lebih populer disebut dengan bahasa daerah, sebagaimana juga bahasa bahasa pada umumnya, mencerminkan karakteristik, tata nilai, alam pikir, wawasan lingkungan, dan budaya masyarakat penuturnya. Mengembangkan pendidikan keaksaraan melalui bahasa ibu berarti mendekatkan dan mengakrabkan substansi/ materi keaksaraan dengan alam pikir, pengalaman, dan budaya masyarakat pembelajar sendiri, dari ini mudah dipaham mengapa pengguna bahasa ibu dalam pendidikan keaksaraan dipandang mampu mempercepat pencapaian target pemberantasan buta aksara. Sebab belajar aksara dengan bahasa ibu, seseorang akan tetap menjadi dirinya, tidak merasa jadi orang "asing" boleh jadi justru pembelajaran makin mengenali budaya dan lingkungan, sehingga makin fungsional bagi pengembangan iri dan kehidupannya. Dengan demikian pengembangan pendidikan keaksaraan melalui pendekatan bahasa ibu, jika berjalan dengan baik, tetapi juga mampu memberdayakan mereka sesuai dengan alam pikir, lingkungan dn budayanya sendiri. Selain itu juga akan memperkuat kemampuan bahasa Indonesianya, karena kosa kata yang dikuasainya tidak akan mudah hilang.

Rp 35.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Keaksaraan Melalui Bahasa Ibu
Editor: Dr. Sudjarwo
Penerbit: Departemen Pendidikan Nasional
Edisi: Cetakan Pertama, September 2006
Halaman: 76
Ukuran: 15 x 21 x 0.5 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 370/Sud/k

Kode: Masukkan kode negara.
Telepon: Masukkan nomor telepon.


Checkout Sekarang